Sun Flower - Mario World

::Berhenti Menjadi Gelas::

>> Tuesday, June 28, 2011




Pada suatu hari, seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya yang wajahnya murung kebelakangan ini.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah syukurmu?” Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang bagai tiada putusnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru tersenyum. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar ku perbaiki suasana hatimu itu.” Si murid pun menurut perlahan tanpa semangat. Dia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Cuba ambil segenggam garam, dan masukkan ke dalam segelas air itu,” kata Sang Guru. “Kemudian cuba kau minum airnya sedikit.”

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis kerana meminum air itu.

“Bagaimana rasanya,nak?” tanya Sang Guru.

Masin dan perut ku jadi mual”, jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru tersenyum melihat wajah muridnya yang meringis menahan rasa masin. “Sekarang kau ikut aku”.

Sang Guru membawa muridnya ke tasik berhampiran.

“Ambil segenggam garam yang tersisa tadi, tebarkan ke dalam tasik ini”.

Tanpa banyak bicara, si murid menebarkan segenggam garam ke dalam tasik. Rasa masin di mulutnya belum hilang. Masin sekali!

“Nak, sekarang cuba kau minum air tasik ini,” kata sang Guru sambil mengambil batu yang mendatar untuk mengalas duduk, tepat di pinggir tasik.

Si murid menurut. Dia menangkup kedua tangannya mengambil air tasik, perlahan diteguknya. Ketika air tasik yang dingin dan segar itu mengalir di tekaknya, Sang Guru bertanya, “Bagaimana rasanya?”

“Sangat segar, Guru”, jawabnya ringkas sambil mengelap bibirnya. Air semulajadi itu sangat segar, secara langsung menghilangkan rasa masin yang tersisa di mulutnya sejak tadi.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali”, kata si murid sambil meneguk air tasik itu sekali lagi. Sang Guru hanya tersenyum melihat gelagat muridnya, membiarkan muridnya itu meminum air tasik sepuasnya.

Setelah muridnya selesai minum, perlahan Sang Guru bersuara.penuh kasih sayang.

“Nak...”

“Segala masalah dalam hidup ini umpama segenggam garam. Hanya segenggam. Banyaknya masalah dan kesulitan yang kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai dengan kemampuan dirimu. Jumlahnya tetap begitu,tidak berkurang atau bertambah.”

Sang Guru menambah lagi, “Setiap manusia yang lahir ke dunia juga sedemikian. Tidak seorang manusia pun yang bebas dari penderitaan dan masalah. Hatta Nabi-nabi terdahulu juga tidak terkecuali.”

Si murid terdiam, berfikir.

“Tapi nak...”

“...rasa ‘masin’ dari penderitaan yang dialami itu bergantung pada besarnya ‘qalbu’ (hati) yang menampungnya. Jadi nak, supaya dirimu tidak merasa masinnya derita, berhentilah menjadi gelas. Dan luaskanlah hati mu seluas tasik yang terbentang.”

0 pandangan:

  © Blogger templates Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP